Wahyu dan Sab’atu Ahruf Al-Qur’an diturunkan secara bertahap dan melalui proses yang panjang, dari Allah ke Lauhul Mahfuz, kemudian ke Baitul Izzah, hingga akhirnya kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Mas’ud, disebutkan bahwa Jibril membacakan Al-Qur’an kepada Nabi dengan satu huruf, kemudian Nabi meminta tambah hingga sampai tujuh huruf (sab’atu ahruf). Istilah sab’atu ahruf inilah yang menjadi dasar munculnya ilmu Qiraat Sab’ah.

Makna Tujuh Huruf Terdapat lebih dari 35 pendapat ulama mengenai makna sab’atu ahruf. Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari berpendapat bahwa yang dimaksud adalah tujuh bahasa atau dialek dari kabilah-kabilah Arab. Hal ini karena Al-Qur’an turun di Arab yang memiliki banyak bani dengan gaya bahasa berbeda, seperti Bani Quraysh, Hudzail, Tamim, Tsaqif, Hawazin, Kinanah, dan Yaman. Sementara itu, pendapat lain menyatakan bahwa ini merujuk pada tujuh wajah lafal yang berbeda namun memiliki makna yang sama.

Kodifikasi Ilmu Qiraat Secara praktik, ragam bacaan ini sudah ada sejak masa Nabi, namun pembukuannya sebagai ilmu tersendiri baru dimulai sekitar pertengahan abad ke-2 atau ke-3 Hijriah. Salah satu ulama awal yang membukukan ilmu qiraat adalah Abu Ubaid Qasim bin Salam.

Tokoh kunci yang kemudian menspesifikasikan menjadi “Tujuh Imam” adalah Abu Bakar Ahmad bin Musa al-Baghdadi atau dikenal sebagai Ibnu Mujahid pada abad ke-4 Hijriah. Beliaulah yang memilih tujuh imam qiraat yang dianggap representatif, yaitu Imam Nafi (Madinah), Ibnu Katsir (Makkah), Abu Amr (Basrah), Ibnu Amir (Syam), serta tiga imam dari Kufah: Asim, Hamzah, dan Al-Kisai.