Oleh: Ahmad Bahrul Hayat, M.Pd
Dosen Program Studi Manajemen Pendidikan Islam yang tinggal di lingkungan Buntet Pesantren Cirebon.
Sebagai seorang yang lahir, besar, dan mengabdi di lingkungan pesantren, saya menyaksikan langsung bagaimana tradisi keilmuan klasik berdampingan dengan dinamika modernitas. Di Buntet Pesantren—salah satu pesantren tertua di Indonesia yang didirikan pada tahun 1750 oleh Mbah Muqoyyim—nilai-nilai moderasi beragama bukanlah sebuah konsep asing yang diimpor dari luar. Ia adalah denyut nadi yang mengalir dalam setiap aktivitas, dari pembelajaran kitab kuning hingga pelaksanaan haul dan tradisi masyarakat setempat.
Namun, belakangan ini pesantren kerap menghadapi stigma yang mereduksinya sebagai “sarang radikalisme.” Isu ini menjadi tantangan serius di tengah maraknya polarisasi identitas dan penetrasi paham fundamentalis melalui media digital. Sebagai bagian dari ekosistem pesantren, saya merasa perlu meluruskan narasi dan menegaskan kembali peran strategis pesantren khususnya Buntet Pesantren sebagai pusat peradaban Islam Nusantara yang moderat.
Buntet Pesantren: Laboratorium Moderasi Sejak Abad ke-18
Buntet Pesantren adalah Kawasan lingkungan Pesantren yang berada di wilayah Desa Mertapadakulon Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat.
Sejarah Buntet Pesantren adalah sejarah perlawanan terhadap ketidakadilan sekaligus peneguhan sikap moderat. Mbah Muqoyim, pendiri pesantren ini, adalah seorang Mufti Keraton Kanoman yang memilih keluar dari istana karena kekecewaan terhadap keberpihakan keraton kepada kolonial Belanda dan perilaku menyimpang dari syariah. Ia mendirikan pesantren bukan untuk memberontak secara destruktif, melainkan untuk membangun peradaban alternatif yang berlandaskan ilmu dan akhlak.
Sikap non-kooperatif terhadap penjajah ini diwarisi oleh generasi penerus, terutama KH. Abbas Abdul Jamil—santri angkatan pertama Tebuireng yang menjadi penggerak NU di Cirebon. Kiai Abbas tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga mendidik santri menjadi pejuang bangsa. Pada masa revolusi, Buntet Pesantren menjadi markas pergerakan nasional dan melahirkan pasukan Hizbullah serta Sabilillah yang bertempur mempertahankan kemerdekaan. Ini membuktikan bahwa nasionalisme adalah bagian tak terpisahkan dari pendidikan pesantren—sebuah manifestasi nyata dari prinsip al-muwathanah (cinta tanah air) yang merupakan bagian dari moderasi beragama.
Menanamkan Moderasi Lewat Kitab Turats
Di Buntet Pesantren, nilai-nilai moderasi tidak diajarkan sebagai doktrin politik, tetapi diinternalisasi melalui pembelajaran kitab-kitab klasik (kitab turats). Metode sorogan, bandongan, dan musyawarah yang khas pesantren menjadi medium efektif untuk mentransmisikan nilai-nilai wasathiyah.
Penelitian di pesantren menunjukkan bahwa kitab-kitab seperti at-Tahliyah wa at-Targhib mengajarkan cinta tanah air, Hujjah Ahlussunnah wal Jama’ah mengajarkan toleransi dan sikap ramah budaya—yang menjadi dasar akomodasi terhadap tradisi lokal seperti tahlilan dan ziarah kubur, Bidayatul Hidayah menanamkan anti-kekerasan, dan Mukhtarul Ahadits memuat hadis-hadis tentang kewajiban taat kepada pemimpin yang adil. Tradisi pernikahan di Buntet pun sarat dengan nilai-nilai syariah dan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan moderasi beragama.
Pesantren, dengan kata lain, adalah “rumah” moderasi beragama jauh sebelum istilah ini populer. Kiai sebagai figur sentral menjadi teladan, sementara kehidupan pesantren yang menghimpun santri dari berbagai latar belakang melatih sikap toleransi (tasamuh) dan kesetaraan.
Menjawab Tantangan Zaman
Di era digital saat ini, tantangan yang dihadapi pesantren semakin kompleks. Stigma negatif yang menghubungkan pesantren dengan radikalisme, meskipun banyak kalangan meragukan hubungan kausalnya, harus dijawab dengan kerja nyata. Buntet Pesantren meresponsnya dengan mendirikan Pusat Studi Moderasi Beragama di lingkungan STIT Buntet Pesantren—sebuah langkah strategis untuk melembagakan kajian dan pengembangan nilai-nilai moderasi secara akademis. Visinya jelas: menciptakan lingkungan kampus yang harmonis dan inklusif, serta menjadi pusat pengembangan moderasi beragama di lingkungan pendidikan pesantren.
Pendekatan Community Based Education Management juga diterapkan di Buntet dengan melibatkan orang tua santri dan masyarakat sekitar dalam kegiatan rutin seperti haul, bahsul masail, Maulid Nabi Muhammad, Peringatan Isra’ Mi’raj, dan kegiatan sosial. Ini memastikan bahwa moderasi tidak hanya menjadi wacana di dalam kelas, tetapi juga dipraktikkan dalam relasi sosial sehari-hari.
Peneguhan Jati Diri untuk Indonesia
Moderasi beragama di pesantren adalah cerminan dari Islam Nusantara yang santun, toleran, dan cinta tanah air. Ini bukan warisan yang lahir dari intervensi negara, melainkan buah dari pergulatan sejarah panjang para ulama dalam merumuskan Islam yang sesuai dengan konteks ke-Indonesia-an.
Di tangan para kiai dan santri Buntet, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi benteng moral yang memastikan Indonesia tetap kokoh di atas keberagaman. Dengan terus menguatkan peran ini—melalui pembelajaran kitab turats yang bernafaskan moderasi, penguatan sanad keilmuan, dan keterlibatan aktif dalam kehidupan masyarakat—kita tidak hanya menjaga masa depan pesantren, tetapi juga masa depan bangsa yang damai dan berkeadaban.
Wallahu a’lam bish-shawab.

